breadcrumb
breadcrumb
menu
Menu Cepat
Artikel Kampus
Informasi & berita terbaru
Cara Membangun Jaringan Profesional bagi Staf Pengembangan SDM: Mulai dari Diskusi yang Relevan
Pelajari bagaimana cara membangun jaringan profesional staf pengembangan SDM melalui diskusi perilaku, refleksi kasus, kontribusi, dan tindak lanjut.
Pernah melihat perubahan perilaku rekan kerja, lalu ingin mendiskusikannya dengan sesama praktisi SDM tetapi khawatir kesimpulan yang dibuat masih terlalu banyak berdasarkan asumsi?
Bagi staf pengembangan SDM, jaringan profesional tidak harus dimulai dengan mengenal sebanyak mungkin orang. Relasi yang bermanfaat justru dapat tumbuh dari satu persoalan kerja yang ingin dipahami, satu rekan yang relevan, dan satu percakapan yang dilakukan dengan hati-hati.
Cara membangun jaringan profesional bagi staf pengembangan SDM dapat dimulai dengan menentukan apa yang ingin dipelajari, mencari rekan yang sesuai, membawa contoh kasus yang aman untuk dibahas, meminta sudut pandang, lalu melakukan tindak lanjut.
Mengapa Staf Pengembangan SDM Perlu Bertukar Pengetahuan?
Pekerjaan pengembangan SDM banyak berhubungan dengan manusia.
Ada komunikasi, motivasi, perilaku dalam tim, proses belajar, sampai cara seseorang merespons lingkungan kerja.
Namun, perilaku manusia tidak selalu mudah dipahami hanya melalui satu kejadian.
Seseorang yang terlihat pasif dalam rapat, misalnya, belum tentu tidak memiliki motivasi. Ada banyak konteks yang mungkin memengaruhi perilaku tersebut.
Karena itu, berdiskusi dengan rekan SDM atau fasilitator pengembangan karyawan dapat membantu memperluas cara melihat situasi.
Tujuannya bukan memberi label kepada seseorang, tetapi melatih kemampuan membedakan antara apa yang benar-benar diamati dan kesimpulan yang masih berupa dugaan.
Saat Lingkar Diskusi Terbatas, Penilaian Mudah Berhenti pada Asumsi
Salah satu kekhawatiran staf pengembangan SDM adalah merasa penilaian terhadap perilaku rekan kerja masih terlalu bergantung pada intuisi.
Intuisi dapat muncul dari pengalaman, tetapi diskusi profesional membantu menguji apakah interpretasi kita sudah cukup hati-hati.
Coba petakan orang yang sudah ada di sekitar Anda.
- Siapa rekan SDM yang sering menangani pengembangan karyawan?
- Siapa yang terbiasa memfasilitasi pelatihan atau diskusi kelompok?
- Siapa yang sering melakukan observasi terhadap proses kerja tim?
- Siapa yang dapat diajak membahas komunikasi interpersonal secara lebih objektif?
Setelah itu, pilih satu kebutuhan belajar.
Misalnya, Anda ingin melatih kemampuan membedakan pengamatan perilaku dari asumsi.
Tujuan yang spesifik membuat percakapan profesional lebih fokus dan membantu orang lain memahami jenis masukan yang Anda perlukan.
Cara Memulai Percakapan Profesional yang Saling Bermanfaat
Percakapan tidak perlu diawali dengan teori yang panjang.
Anda dapat bertanya:
“Saya sedang belajar membedakan pengamatan perilaku dari asumsi. Menurut Anda, bagian apa yang sebaiknya saya perhatikan lebih dulu?”
Setelah itu, gunakan kasus rekaan agar pembahasannya lebih aman dan konkret.
Misalnya, bayangkan seorang anggota tim yang beberapa kali diam ketika rapat.
Tuliskan dua bagian secara terpisah.
- Pengamatan: orang tersebut tidak berbicara selama dua sesi diskusi.
- Asumsi: orang tersebut tidak tertarik terhadap pekerjaan tim.
Perbedaannya terlihat sederhana, tetapi penting.
Pengamatan menjelaskan apa yang benar-benar terlihat. Asumsi sudah memasukkan penafsiran mengenai penyebab atau kondisi seseorang.
Kasus seperti ini dapat menjadi bahan diskusi tanpa menggunakan informasi sensitif tentang orang tertentu.
Gunakan Refleksi Kasus sebagai Kontribusi Kecil
Networking profesional akan lebih bermakna ketika Anda tidak hanya datang untuk meminta jawaban.
Sebagai staf pengembangan SDM, Anda dapat membawa refleksi kasus sederhana sebagai kontribusi.
Susun kasus rekaan dengan format berikut.
- Apa situasinya?
- Perilaku apa yang benar-benar terlihat?
- Interpretasi apa yang sempat muncul?
- Informasi apa yang belum diketahui?
- Pertanyaan apa yang ingin didiskusikan?
Format seperti ini membantu percakapan tetap terarah.
Rekan diskusi juga dapat memberikan sudut pandang tanpa harus menilai individu tertentu.
Dari sini, Anda menunjukkan kemampuan untuk merefleksikan masalah, bukan sekadar meminta pendapat.
Menguatkan Bahan Diskusi melalui S1 Psikologi
Semakin kuat pemahaman mengenai perilaku manusia, semakin baik pula kualitas pertanyaan yang dapat dibawa dalam diskusi profesional.
S1 Psikologi mempelajari pikiran, emosi, dan perilaku manusia.
Baca juga: Program S1 Psikologi UM Surabaya
Bagi staf pengembangan SDM, pembelajaran tersebut dapat membantu membangun cara melihat perilaku secara lebih terstruktur.
Seseorang tidak hanya bertanya, “Kenapa orang ini seperti itu?”, tetapi mulai memikirkan apa yang sebenarnya diamati, konteks apa yang mungkin relevan, informasi apa yang masih kurang, dan bagaimana komunikasi dapat dilakukan dengan lebih tepat.
Cara berpikir seperti ini membuat diskusi dengan rekan SDM menjadi lebih kaya.
Refleksi kasus rekaan mengenai komunikasi kerja juga dapat digunakan sebagai latihan untuk membangun cara berpikir tersebut. Ini merupakan contoh aktivitas belajar, bukan tugas resmi dari program studi.
Dari Rekan Diskusi Menjadi Mitra Belajar yang Dipercaya
Jaringan profesional berkembang melalui konsistensi.
Setelah mendapat masukan, jangan berhenti pada percakapan pertama.
Gunakan pola sederhana.
- Lakukan satu percakapan yang relevan.
- Bawa satu kasus atau pertanyaan yang jelas.
- Dengarkan sudut pandang orang lain.
- Perbaiki cara Anda memahami situasi.
- Lakukan tindak lanjut.
Misalnya, setelah berdiskusi Anda dapat mengatakan:
“Setelah pembicaraan kemarin, saya jadi lebih sadar bahwa beberapa hal yang saya anggap sebagai perilaku sebenarnya sudah berupa interpretasi.”
Tindak lanjut seperti ini menunjukkan bahwa percakapan benar-benar menghasilkan pembelajaran.
Seiring waktu, rekan yang awalnya hanya menjadi tempat bertanya dapat berkembang menjadi mitra diskusi yang dipercaya.
Berikan Pengalaman SDM sebagai Kontribusi Balik
Networking bukan hubungan satu arah.
Anda juga membawa pengalaman yang dapat berguna bagi orang lain.
Mungkin Anda pernah membantu menyiapkan pelatihan, mendampingi proses pengembangan karyawan, menyusun komunikasi internal, atau mengamati dinamika kelompok dalam pekerjaan.
Pengalaman tersebut dapat menjadi bahan pertukaran.
Ketika seorang fasilitator berbagi tentang cara membaca respons peserta, misalnya, Anda dapat membagikan pengalaman mengenai pola komunikasi yang pernah muncul dalam konteks organisasi.
Dengan demikian, percakapan tidak berhenti pada “saya ingin belajar dari Anda”.
Hubungan berkembang menjadi “kita mempunyai pengalaman berbeda yang dapat dibahas bersama”.
Ukur Networking dari Kualitas Pembelajaran Bersama
Jumlah kontak bukan ukuran utama jaringan profesional.
Bagi staf pengembangan SDM, relasi yang lebih bermakna dapat terlihat ketika:
- Ada orang yang nyaman diajak mendiskusikan persoalan pengembangan manusia.
- Percakapan berlanjut setelah diskusi pertama.
- Anda memperoleh sudut pandang baru.
- Anda juga dapat memberikan kontribusi.
- Pemahaman dari diskusi mulai diterapkan dalam cara berkomunikasi atau bekerja.
Dengan ukuran seperti ini, networking menjadi bagian dari proses belajar profesional, bukan sekadar aktivitas memperluas daftar koneksi.
Mempelajari Ruang Pengembangan Diri di UM Surabaya
Universitas Muhammadiyah Surabaya menyediakan Program Perkuliahan Karyawan S1 Psikologi bagi pekerja yang ingin melanjutkan pendidikan sambil tetap menjalankan aktivitas profesional.
Institusi UM Surabaya berakreditasi Unggul, sementara Program Studi S1 Psikologi pada data yang tersedia berakreditasi Baik.
Perkuliahan menggunakan metode Blended Learning dan Hybrid Learning dengan jadwal Jumat pukul 18.00–21.00, Sabtu pukul 13.00–21.00, dan Minggu pukul 08.00–18.00.
Baca juga: S1 Psikologi UM Surabaya
Pembelajaran Psikologi dapat menjadi ruang untuk memahami pikiran, emosi, dan perilaku manusia secara lebih terarah sekaligus memperkuat cara berkomunikasi dalam konteks pengembangan orang lain.
Jika aspek kolaborasi profesional penting bagi Anda, tanyakan kepada PMB mengenai bentuk diskusi kelas, proyek kelompok, kegiatan profesi, atau akses alumni yang memang tersedia.
Informasi tersebut perlu dikonfirmasi langsung karena bentuk kegiatan dapat berbeda sesuai pelaksanaan program.
Anda dapat mempelajari informasi lebih lanjut melalui website UM Surabaya dan membawa kebutuhan pengembangan kemampuan sebagai bahan ketika berkonsultasi.
Baca juga: Informasi Program S1 Psikologi UM Surabaya
Membangun jaringan profesional bagi staf pengembangan SDM tidak harus dimulai dengan mengikuti banyak acara atau mengenal banyak praktisi sekaligus.
Mulailah dari satu persoalan perilaku yang ingin dipahami, satu rekan yang relevan, satu refleksi kasus rekaan sebagai bahan diskusi, dan satu tindak lanjut setelah menerima masukan.
Dari percakapan tersebut, jaringan profesional dapat berkembang bersama kemampuan Anda melihat perilaku dengan lebih hati-hati, berkomunikasi lebih terarah, dan mendukung pengembangan orang lain dengan lebih baik.
Hubungi layanan kami
Pusat Bantuan Kampus
Kampus UM SURABAYA • Jl. Sutorejo No. 59 Surabaya, Jawa Timur, Indonesia, 60113
Tagged (Tags) :
© 2026 Universitas Muhammadiyah Surabaya. All rights reserved.
UM SURABAYA