breadcrumb
breadcrumb
menu
Menu Cepat
Artikel Kampus
Informasi & berita terbaru
Pakar Kesehatan UMSURA Soroti Usulan SPPG di Kampus: Perguruan Tinggi Harus Fokus pada Riset dan Inovasi
Pakar kesehatan UMSURA menyoroti usulan SPPG di kampus dan menegaskan perguruan tinggi harus fokus pada riset, inovasi, dan pengembangan solusi untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Usulan agar setiap kampus memiliki minimal satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) mulai menjadi perhatian di dunia pendidikan tinggi. Gagasan yang disampaikan oleh Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, ini dinilai sebagai langkah untuk memperkuat program peningkatan gizi nasional, termasuk mendukung pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu program prioritas pemerintah.
Di tengah upaya memperkuat kualitas gizi masyarakat, keterlibatan perguruan tinggi memang dinilai penting. Namun, sejumlah akademisi mengingatkan bahwa kontribusi kampus perlu tetap berada dalam fungsi utamanya sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan, riset, dan inovasi.
Pandangan ini salah satunya disampaikan oleh pakar kesehatan dari Universitas Muhammadiyah Surabaya, Dede Nasrullah. Ia menilai bahwa kampus tidak seharusnya bergeser menjadi pelaksana teknis layanan gizi seperti dapur SPPG.
“Kampus harus membumi dan berdampak terhadap ilmu pengetahuan, dikenal melalui riset unggulan, kebijakan berbasis data, dan inovasi strategis, bukan karena keberhasilannya mengelola teknis dapur dan distribusi makanan.”
Pernyataan ini menegaskan bahwa peran utama perguruan tinggi bukan sekadar menjalankan program, tetapi menciptakan pengetahuan dan solusi yang dapat berdampak lebih luas dalam jangka panjang.
Kampus Bisa Terlibat, Tapi Harus Ada Nilai Akademik
Menurut Dede, perguruan tinggi tetap bisa terlibat dalam program SPPG. Namun, keterlibatan tersebut harus memiliki nilai akademik yang jelas dan terukur. Ia menjelaskan bahwa fasilitas SPPG justru bisa dimanfaatkan sebagai ruang pembelajaran langsung atau living laboratory bagi mahasiswa dan dosen. Dengan pendekatan ini, kampus tetap menjalankan fungsi pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat secara bersamaan.
“Misalnya, SPPG bisa dijadikan laboratorium hidup untuk riset pangan lokal, pengembangan teknologi pengolahan makanan, serta model distribusi gizi berbasis komunitas. Di situ ada nilai akademik yang kuat.”
Konsep ini membuka peluang besar bagi mahasiswa untuk belajar dari situasi nyata, sekaligus membantu kampus menghasilkan riset yang lebih relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Fokus pada Riset Strategis untuk Kebijakan Gizi
Dede menilai perguruan tinggi memiliki ruang yang sangat besar untuk mendukung kebijakan gizi nasional melalui riset strategis. Dibanding terlibat langsung dalam teknis operasional, kampus justru lebih kuat dalam menghasilkan data, analisis, dan inovasi yang bisa menjadi dasar kebijakan.
Beberapa bidang penelitian yang dinilai relevan antara lain:
- Riset tentang status gizi masyarakat
- Evaluasi dampak program Makan Bergizi Gratis (MBG)
- Pengembangan menu berbasis pangan lokal
- Model distribusi pangan berbasis komunitas
- Sistem rantai pasok yang melibatkan petani lokal
“Riset tentang dampak MBG, desain menu berbasis kearifan lokal, hingga model rantai pasok yang melibatkan petani lokal itu yang seharusnya menjadi fokus kampus.”
Pendekatan berbasis riset dinilai mampu memberikan kontribusi jangka panjang yang lebih besar karena hasilnya dapat digunakan untuk memperbaiki sistem secara menyeluruh.
Menjawab kebutuhan program seperti MBG, dunia pendidikan juga perlu menyiapkan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi lintas bidang. Ada beberapa jurusan yang memiliki peran strategis dalam mendukung program gizi nasional, di antaranya:
- Teknik Industri: berperan dalam merancang sistem distribusi pangan yang efisien, mengatur alur operasional, hingga memastikan rantai pasok berjalan optimal.
- Manajemen: dibutuhkan untuk mengelola operasional program secara strategis, mulai dari perencanaan, pengelolaan sumber daya, hingga evaluasi program.
- Akuntansi: penting untuk memastikan pengelolaan anggaran berjalan transparan, efisien, dan akuntabel sesuai kebutuhan program.
Kombinasi keilmuan ini menunjukkan bahwa isu gizi nasional bukan hanya persoalan kesehatan, tetapi juga menyangkut sistem, tata kelola, dan keberlanjutan program.
Kuliah Fleksibel untuk Siapkan SDM yang Adaptif
Di era saat ini, kebutuhan akan sumber daya manusia yang mampu berpikir kritis, meneliti, dan menghasilkan inovasi semakin tinggi. Karena itu, pendidikan tinggi menjadi langkah penting untuk membangun kompetensi tersebut.
Bersama eduNitas, calon mahasiswa bisa menemukan berbagai pilihan kampus dan program studi dengan sistem kuliah yang fleksibel seperti program kelas karyawan (P2K), hybrid learning, kuliah online, hingga jalur RPL (Rekognisi Pembelajaran Lampau). Sistem ini memungkinkan mahasiswa tetap bisa kuliah sambil bekerja atau menjalankan kegiatan lainnya.
Kampus Harus Tetap Jadi Tempat Riset dan Inovasi
Dukungan perguruan tinggi terhadap program pemerintah seperti MBG memang penting. Namun, seperti yang disampaikan Dede Nasrullah, bentuk dukungan tersebut harus tetap sesuai dengan kapasitas utama kampus sebagai pusat ilmu pengetahuan, riset, dan inovasi. Pada akhirnya, kekuatan utama kampus bukan pada kemampuan menjalankan program teknis, tetapi pada kemampuannya menghasilkan gagasan, penelitian, dan inovasi yang dapat menjadi solusi jangka panjang bagi masyarakat.
Jika kamu ingin menjadi bagian dari generasi yang mampu berpikir kritis, menghasilkan solusi, dan membangun masa depan lewat pendidikan, sekarang adalah waktu yang tepat untuk mulai melangkah bersama eduNitas. Melalui pilihan kuliah fleksibel seperti kelas karyawan (P2K), hybrid learning, hingga jalur RPL, kamu bisa tetap belajar tanpa harus meninggalkan pekerjaan atau aktivitas lainnya. Tidak hanya itu, kamu juga bisa mengembangkan skill melalui eduNitas ExpertClass dengan berbagai webinar pengembangan diri, karier, teknologi, bisnis, dan soft skill lengkap dengan e-certificate.
Yuk, mulai langkahmu sekarang! Akses informasi lengkap melalui website dan media sosial eduNitas seperti Instagram, TikTok, LinkedIn, Website eduNitas, atau gabung di Channel WhatsApp, dan temukan jalur kuliah yang paling sesuai untuk masa depanmu. Ingin informasi lebih lanjut? Kamu bisa langsung menghubungi Tim PMB eduNitas sekarang juga.
Artikel ini merupakan hasil saduran dan pengembangan informasi dari artikel resmi yang dipublikasikan oleh Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA). Seluruh informasi utama terkait program dan kegiatan akademik merujuk pada sumber resmi kampus, kemudian disesuaikan kembali untuk pembaca eduNitas.
Hubungi layanan kami
Pusat Bantuan Kampus
Kampus UM SURABAYA • Jl. Sutorejo No. 59 Surabaya, Jawa Timur, Indonesia, 60113
Tagged (Tags) :
© 2026 Universitas Muhammadiyah Surabaya. All rights reserved.
UM SURABAYA